Pages

--->you already visited carapandangku.blogspot.com<---
17 Maret 2011

Mandau: Serba serbi mandau

Para cp sekalian.. Memang saya sebagai anak suku dayak asli (papah en mamah asli dayak) sudah familiar banget dengan yang namanya mandau. Kakek saya yang juga seorang "damang" dalam "dunianya" juga seorang dukun dan pembuat mandau dalam dunia yang nyata ini. tapi kakek saya udah meninggal kok cp. Dan saya ndak ada sama sekali punya ilmu yang katanya bisa diturunkan itu.. Lagipula ogah gue para cp.. Biar diwariskan gratis kek, ogah gw.. Karena saya melihat dengan kepala mata saya sendiri bagaimana susahnya kakek saya itu meninggal karena ilmu2nya. Dan repotnya para keluarga waktu meninggalnya kakek karena hal2 mistik yg terjadi.. Fyuuh..
Okelah, (kok malah curhat jadinya) kita langsung saja simak ulasannya dari berbagai sumber dan mohon kritik dan sarannya yah para cp sekalian.. ^^v

-000-

1. Sejarah mandau
Menurut cerita rakyat, sebutan lengkap senjata ini adalah mandau ambang birang bitang pojo ayun kayau. Pada zaman dahulu senjata mandau selalu dikaitkan dengan tradisi mengayau di kalangan orang Dayak, yakni memenggal kepala musuh, baik dalam peperangan atau lainnya. Tradisi ini akhirnya menjadi suatu kepercayaan masyarakat Dayak bahwa mandau yang sering digunakan untuk mengayau dianggap semakin keramat, sementara pemiliknya dianggap semakin sakti dan status sosialnya semakin tinggi. Namun saat ini, dengan semakin hilangnya tradisi mengayau sejak awal abad ke-20 M, mandau tidak sekeramat dahulu. Mandau sudah menjadi senjata biasa yang tidak hanya difungsikan untuk mengayau, tetapi juga untuk berburu, menebang pohon, menebas dahan dan menggali umbi-umbian.

Sejarah mencatat bahwa mandau yang asli dibuat dari batu gunung yang dilebur secara khusus oleh orang yang ahli, dengan diberi hiasan emas, perak atau tembaga. Senjata ini mirip dengan parang, perbedaannya hanya terletak pada ukiran yang dibuat di bagian bilah yang tumpul. Selain itu, pada bilah ini dibuat pula lubang-lubang yang ditutupi dengan kuningan guna memperindah bilah tersebut. Di sisi lain, kedudukan Mandau hampir sama dengan keris bagi masyarakat Jawa, atau rencong bagi masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam.
2. Jenis-jenis mandau (untuk masa sekarang)
Bagi suku Dayak, Mandau tak hanya sekedar sebilah senjata tajam. Mandau juga dipercaya memiliki kesakralan. Suku Dayak percaya, Mandau dapat memberikan kehormatan pada si pemiliknya.
Ada dua macam Mandau dimiliki suku Dayak yaitu , Mandau khusus untuk perang ataupun ritual khusus. Ada juga Mandau yang sengaja dibuat untuk hiasan dan dipajang di dinding.  Konon, Mandau yang asli dipercaya memiliki kekuatan magis. 

3. Komponen Mandau
Pada dasarnya mandau terdiri dari ulu (pegangan), sarung dan bilah. Ulu terbuat dari kayu pilihan dan diberi hiasan, di antaranya berupa jumbai-jumbai rambut manusia yang diambil dari kepala orang yang sudah "dikayau", berfungsi sebagai penambah keangkeran dan keampuhannya. Sementara itu, sarungnya terbuat dari kayu yang juga dihias dengan beragam hiasan, di antaranya manik-manik dan bulu burung. Pada sarung ini diselipkan anak mandau berupa pisau pengerat kecil yang bertangkai panjang. Sedangkan bilah mandau berukuran panjang sekitar 70 cm, ujungnya runcing dengan lebar yang berbeda dari bagian pangkalnya. Lebar di bagian ujungnya sekitar 6, 5 cm, sementara di bagian pangkalnya kira-kira 3,5 cm. Sisi tajamnya terletak di bagian depan, sementara sisi majal (tumpul)nya di bagian punggung. Pada bagian punggung ini terdapat bentuk ukiran bergerigi yang diperindah pula dengan logam lain selain besi, misalnya tembaga atau kuningan.



 4. Cara pembuatan mandau (masa sekarang)
 Untuk membuat sebilah Mandau tidaklah mudah.  Mengingat ada jenis Mandau yang memiliki kekuatan magis, senjata ini secara khusus dibuat oleh pandai besi handal.  Pembuat Mandau khusus untuk ritual ataupun perang haruslah memiliki kekuatan gaib.  Konon, untuk memperoleh kekuatan itu, si pandai besi tersebut harus bertapa dan memohon petunjuk dari leluhur terlebih dahulu. 
Untuk proses pembuatannya-pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar.  Besi untuk Mandau harus terbuat dari baja agar bertahan lama.  Proses akhir pembuatan Mandau yakni membuat baja lebih keras. Jika salah dalam proses pencelupan, Mandau akan menjadi bengkok. Jika ini terjadi, hasil kerja membuat bilah Mandau selama sehari akan percuma.  Bilah Mandau juga harus diasah sedemikian rupa hingga tajam.  Terlebih lagi, ketika proses pengukiran. Waktu pembuatannya akan lebih lama, jika ukiran yang diinginkan semakin bermotif.



5. Perlakuan Orang Dayak Terhadap mandau
Mandau atau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau harus disimpan dan dirawat dengan baik ditempat khusus untuk penghormatan. Karena suku Dayak yakin bahwa mandau memiliki kekuatan spiritual yang mampu melindungi pemiliknya dari serangan atau niat jahat dari lawan – lawannya. Dan mandau juga diyakini dijaga oleh seorang perempuan, dan jika pemilik mandau tersebut bermimpi bertemu dengan perempuan yang menghuni mandau, berarti sang pemilik akan mendapatkan rejeki.



 6. Cerita Mistis Dibalik Mandau
Hal lain yang ditemukan dalam penelitian ini adalah mengenai banyaknya berita berbau mistik selama konflik Sampit. Cerita mistik itu di antaranya mengenai Panglima Burung dan Mandau Terbang di lingkungan suku Dayak. Seperti apakah Panglima Burung diinformasikan oleh media lokal? Dari beberapa surat kabar, tabloid Bebas adalah yang paling banyak memberitakan Panglima Burung dalam laporan utamanya. Tabloid yang menjadi salah satu anak perusahaan Banjarmasin Post (kelompok Gramedia-Kompas) ini secara umum menggambarkan Panglima Burung sebagai pria berwajah tampan tapi menakutkan. Dia gagah, sakti mandraguna, bisa terbang menembus hutan dalam hitungan detik, dapat berubah-ubah wujud misalnya dari manusia menjadi burung, dan bisa membunuh seribu orang dalam sekejab. Versi lain menceritakan, Panglima Burung adalah wanita cantik yang telah hidup ratusan tahun, dapat dipanggil warga Dayak kapan saja, serta kekuatannya bisa menitis (hlm. 125-126). Penggambaran tentang sosok Panglima Burung ini ditulis bersumber dari hasil wawancara dengan warga Dayak. Karena, memang tidak ada satupun wartawan yang berhasil mewawancarai Panglima Burung.

7. Mandau Sebagai Cenderamata
Pada masa sekarang mandau sering dibuat cenderamata oleh para pelancong yang berkesempatan ke kalimantan. Mandau menjadi cenderamata yang khas karena selain cerita di balik mandau, bentuknyapun juga memiliki seni yang cukup tinggi. Sudah ada banyak galeri yang menjual cenderamata ini. Tentunya mandau yang dijual juga ada mandau yang "aspal" dengan kata lain hanya dibuat sebagai hiasan.

Hm.. Para cp sekalian, demikianlah hasil survey dan rangkuman yang saya ambil dari berbagai sumber mengenai mandau, senjata suku dayak yang juga adalah penduduk asli pulau kalimantan itu. semoga berguna bagi para cp sekalian.. Salam.

Sumber:http://mandaukalimantan.blogspot.com/, http://id.voi.co.id/, http://samsuri.blogspot.com/










Kata kunci yang berhubungan dengan artikel ini:
Mandau, Mandau Kalimantan, Suku Dayak, Senjata Suku Dayak, Cerita Mandau, Hal Berbau Mistik Tentang Mandau, Sejarah Mandau, Komponen Mandau, Mandau Asli, Dayak, Suku Dayak Asli, Panglima Burung, Senjata Panglima Burung, Mandau Melayang, Senjata Dayak, Kalimantan, Suku Kalimantan, Budaya Kalimantan, Senjata Mandau, Jual mandau, Galeri Mandau, Serba Serbi Mandau

4 komentar:

Anonim mengatakan...

tmn w dayak asli pya mandau yg ktna penunggunya cw cantik tp dahinya bolong!

Anonim mengatakan...

yang itu sendel bolong bukan penghuni mandau

Talib Zking mengatakan...

artikel yag bagus mas, oiya...bila diijinkan saya minta 3 fhoto mandau ini tuk koleksi..ok..?

(saya anak dayak ngaju ot-danum, kalteng, tks...

panji segara mengatakan...

bagus ..sekali saya jadi punya pandangan tentang mandau suku dayak

Posting Komentar

Please Comment Here

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...