Pages

--->you already visited carapandangku.blogspot.com<---
10 Mei 2011

Kumpulan Dongeng Anak-Anak

Pasti semua sudah nggak asing lagi dengan dongeng.. Biasanya waktu kecil saya juga suka diceritain sama nenek saya berbagai dongeng sebelum tidurnya. disini saya akan membagikan beberapa dongeng yang saya kumpulkan dari berbagai sumber...

Langsung cek aja ya... ^^







SEMUT DAN KEPOMPONG
Di suatu hutan yang rindang, hidup berbagai binatang buas dan jinak. Ada kelinci, burung,
kucing, capung, kupu-kupu dan yang lainnya. Pada suatu hari, hutan dilanda badai yang
sangat  dahsyat.  Angin  bertiup  sangat kencang, menerpa pohon dan daun-daun. Kraak!
terdengar bunyi dahan-dahan berpatahan. Banyak hewan yang tidak dapat menyelamatkan
dirinya, kecuali si semut yang berlindung di dalam tanah. Badai baru berhenti ketika pagi
menjelang. Matahari kembali bersinar hangatnya.
Tiba-tiba dari dalam tanah muncul seekor semut. Si semut
terlindung dari badai karena ia bisa masuk ke sarangnya di
dalam tanah. Ketika sedang berjalan, ia melihat seekor
kepompong yang tergeletak di dahan daun yang patah. Si
semut bergumam, "Hmm, alangkah tidak enaknya menjadi
kepompong, terkurung dan tidak bisa kemana-mana". "Menjadi
kepompong memang memalukan!". "Coba lihat aku, bisa pergi
ke mana saja ku mau", ejek semut pada kepompong. Semut
terus mengulang perkataannya pada setiap hewan yang
berhasil ditemuinya.
Beberapa hari kemudian, semut berjalan di jalan yang berlumpur. Ia
tidak menyadari kalau lumpur yang diinjaknya bisa menghisap dirinya
semakin dalam. "Aduh, sulit sekali berjalan di tempat becek seperti
ini," keluh semut. Semakin lama, si semut semakin tenggelam dalam
lumpur. "Tolong! tolong," teriak si semut.
"Wah, sepertinya kamu sedang kesulitan ya?" Si semut terheran mendengar suara itu. Ia
memandang kesekelilingnya mencari sumber suara. Dilihatnya seekor kupu-kupu yang indah
terbang mendekatinya. "Hai, semut aku adalah kepompong yang dahulu engkau ejek.
Sekarang aku sudah menjadi kupu-kupu. Aku bisa pergi ke mana saja dengan sayapku.
Lihat! sekarang kau tidak bisa berjalan di lumpur itu kan?" "Yah, aku sadar. Aku mohon maaf
karena telah mengejekmu. Maukah kau menolongku sekarang?" kata si semut pada kupu-
kupu.
Akhirnya kupu-kupu menolong semut yang terjebak dalam lumpur penghisap. Tidak berapa
lama, semut terbebas dari lumpur penghisap tersebut. Setelah terbebas, semut
mengucapkan terima kasih pada kupu-kupu. "Tidak apa-apa, memang sudah kewajiban kita
untuk menolong yang sedang kesusahan bukan?, karenanya kamu jangan mengejek hewan
lain lagi ya?" Karena setiap makhluk pasti diberikan kelebihan dan kekurangan oleh yang
Maha Pencipta. Sejak saat itu, semut dan kepompong menjadi sahabat karib.
HIKMAH :Sesama makhluk ciptaan Tuhan, janganlah saling mengejek dan menghina,
karena siapa tahu yang dihina lebih baik kedudukannya daripada yang menghina.

SERULING AJAIB
Si Kancil sedang asyik berjalan di hutan bambu. "Ternyata enak juga jalan-jalan di hutan
bambu, sejuk dan begitu damai," kata kancil dalam hati. Keasyikan berjalan membuat ia lupa
jalan keluar, lalu ia mencoba jalan pintas dengan menerobos pohon-pohon bambu. Tapi yang
terjadi si kancil malah terjepit diantara batang pohon bambu. "Tolong! Tolong!" teriak kancil.
Ia meronta-ronta, tapi semakin ia meronta semakin kuat terjepit. Ia hanya berharap mudah-
mudahan ada binatang lain yang menolongnya.
Tak jauh dari hutan bambu, seekor harimau sedang
beristirahat sambil mendengarkan kicauan burung. Ia
berkhayal bisa bernyanyi seperti burung. "Andai aku bisa
bernyanyi seperti burung, tapi siapa yang mau mengajari aku
bernyanyi ya?", tanyanya dalam hati. Semilir angin membuat
harimau terkantuk-kantuk. Tak lama setelah ia mendengkur,
terdengar suara berderit- derit. Suara itu semakin nyaring
karena terbawa angin. "Suara apa ya itu?" kata harimau
"Yang pasti bukan suara kicauan burung, sepertinya suaranya
datang dari arah hutan bambu, lebih baik aku selidiki saja," ujar si
harimau. Suara semakin jelas ketika harimau sampai di hutan
bambu. Ia mendapati ternyata seekor kancil sedang terjepit
diantara pohon-pohon bambu. "Wah aku beruntung sekali hari ini,
tanpa susah payah hidangan lezat sudah tersedia", ujar harimau
kepada kancil sambil lidahnya berdecap melihat tubuh kancil yang
gemuk. Kancil sangat ketakutan. "Apa yang harus kulakukan agar
bisa lolos dengan selamat?", pikir si kancil.
"Harimau yang baik, janganlah kau makan aku, tubuhku yang kecil pasti tak akan
mengenyangkanmu." "Aku tak perduli, aku sudah lama menunggu kesempatan ini," ujar si
harimau. Angin tiba-tiba berhembus lagi, kriet....kriet... "Suara apa itu?", Tanya Harimau
penasaran. "Itu suara seruling ajaibku," jawab kancil dengan cepat. Otaknya yang cerdik
telah menemukan suatu cara untuk meloloskan diri. "Aku bersedia mengajarimu asalkan
engkau tidak memangsaku, bagaimana?" Tanya si kancil.
Harimau tergoda dengan tawaran si kancil, karena ia memang
ingin dapat bernyanyi seperti burung. Ia berpikir meniup
seruling tidak kalah hebat dengan bernyanyi. Tangan si kancil
pura-pura asyik memainkan seruling seiring dengan hembusan
angin. Sementara harimau memperhatikan dengan serius. "Koq
lagunya hanya seperti itu?", Tanya harimau. "ini baru nada
dasar", jawab kancil.
"Begini caranya, coba kau kemari dan renggangkan dulu batang bambu ini dari tubuhku",
kata si kancil. Harimau melakukan apa yang d ikatakan kancil hingga akhirnya kancil terbebas
dari jepitan pohon bambu. "Nah, sekarang masukkan lehermu dan julurkan lidahmu pada
batang bambu ini. Lalu tiuplah pelan-pelan", Kancil menerangkan dengan serius. "Jangan
heran ya, kalau suaranya kadang kurang merdu, tapi kalau lagi tidak ngadat suaranya bagus
lho." "Untung ada si harimau, hmm bodoh sekali dia, mana ada seruling ajaib," kata kancil
dalam hati. "Harimau yang telah terjepit di antara batang bambu tidak menyadari bahwa ia
telah ditipu si kancil. "Kau mau pergi kemana, Cil?", Tanya harimau. "Aku mau minum dulu,
tenggorokanku kering karena kebanyakan meniup seuling," jawab si kancil. "Masa aku harus
belajar sendiri?", tanya harimau lagi. "Aku pergi tidak lama, nanti waktu aku kembali, kau
harus sudah bisa meniupnya ya, jawab si kancil sambil pergi meninggalkan harimau.
Setelah si kancil pergi, angin bertiup semilir-semilir dan semakin lama semakin kencang.
Batang-batang pohon bambu menjadi saling bergesekan dan berderit-derit. "Hore aku bisa!",
seru harimau bersemangat. Karena terlalu bersemangat meniup, lidah harimau menjadi
terjepit di antara batang bambu. Ia berteriak kesakitan dan segera menarik lidahnya dari
jepitan batang bambu. "Wah ternyata aku telah ditipu lagi oleh si kancil, betapa bodohnya
aku ini!, pasti bunyi berderit-derit itu suara batang bambu yang bergesekan. "Grr, benar-
benar keterlaluan, kalau ketemu nanti akan ku hajar si kancil", kata harimau.
Setelah lelah mencari si kancil, akhirnya harimau beristirahat di
bawah pohon. Angin berhembus kembali. Kriet..kriet..kriet
membuat batang-batang bambu saling bergesekan dan berderit-
derit. Hal ini membuat amarah harimau sedikit reda. Ia jadi
mengantuk dan akhirnya tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi dapat
meniup seruling asli. Membuat para binatang menari dan
menyanyi.

KERA JADI RAJA
Sang Raja hutan "Singa" ditembak pemburu, penghuni hutan
rimba jadi gelisah. Mereka tidak mempunyai Raja lagi. Tak berapa
lama seluruh penghuni hutan rimba berkumpul untuk memilih
Raja yang baru. Pertama yang dicalonkan adalah Macan Tutul,
tetapi macan tutul menolak. "Jangan, melihat manusia saja aku
sudah lari tunggang langgang," ujarnya. "Kalau begitu Badak
saja, kau kan amat kuat," kata binatang lain. "Tidak -tidak,
penglihatanku kurang baik, aku telah menabrak pohon berkali-kali." "Oh! mungkin Gajah saja
yang jadi Raja, badan kau kan besar..", ujar binatang-binatang lain. "Aku tidak bisa berkelahi
dan gerakanku amat lambat," sahut gajah.
Binatang-binatang menjadi bingung, mereka belum menemukan raja pengganti. Ketika
hendak bubar, tiba-tiba kera berteriak, "Manusia saja yang menjadi raja, ia kan yang sudah
membunuh Singa". "Tidak mungkin," jawab tupai.
"Coba kalian semua perhatikan aku, aku mirip dengan manusia
bukan?, maka akulah yang cocok menjadi raja," ujar kera. Setelah
melalui perundingan, penghuni hutan sepakat Kera menjadi raja
yang baru. Setelah diangkat menjadi raja, tingkah laku Kera sama
sekali tidak seperti Raja. Kerjanya hanya bermalas-malasan
sambil menyantap makanan yang lezat -lezat.
Penghuni binatang menjadi kesal, terutama srigala. Srigala berpikir, "bagaimana si kera bisa
menyamakan dirinya dengan manusia ya?, badannya saja yang sama, tetapi otaknya tidak".
Srigala mendapat ide. Suatu hari, ia menghadap kera. "Tuanku, saya menemukan makanan
yang amat lezat, saya yakin tuanku pasti suka. Saya akan antarkan tuan ke tempat itu," ujar
srigala. Tanpa pikir panjang, kera, si Raja yang baru pergi bersama srigala.
Di tengah hutan, teronggok buah-buahan kesukaan kera. Kera
yang tamak langsung menyergap buah-buahan itu. Ternyata, si
kera langsung terjeblos ke dalam tanah. Makanan yang
disergapnya ternyata jebakan yang dibuat manusia. "Tolong!
tolong," teriak kera, sambil berjuang keras agar bisa keluar dari
perangkap.
"Hahahaha! Tak pernah kubayangkan, seorang raja bisa berlaku bodoh, terjebak dalam
perangkap yang dipasang manusia, Raja seperti kera mana bisa melindungi rakyatnya," ujar
srigala dan binatang lainnya. Tak berapa lama setelah binatang-binatang meninggalkan kera,
seorang pemburu datang ke tempat itu. Melihat ada kera di dalamnya, ia langsung membawa
tangkapannya ke rumah.
HIKMAH :Perlakukanlah teman-teman kita dengan baik, janganlah sombong dan
bermalas-malasan. Jika kita sombong dan memperlakukan teman-teman semena-
mena, nantinya kita akan kehilangan mereka.

MIA DAN SI KITTY
Mia adalah seorang anak yang baik hati. Ia tinggal bersama
orangtuanya di suatu desa. Karena ramah dan baik hati, ia
mempunyai banyak teman di lingkungan rumah maupun
sekolahnya. Mia adalah anak terkecil diantara 4 bersaudara. Setiap
harinya, Mia dan kakak-kakaknya selalu diajari kedisiplinan dan
budi pekerti oleh orangtuanya. Mia sangat senang dengan binatang.
Binatang yang ada di rumahnya, dipeliharanya dengan rajin. Sudah
lama Mia ingin memelihara kucing, tetapi Ibunya melarang binatang
peliharaan yang dipelihara di dalam rumah karena membuat rumah
kotor.
Suatu hari, Mia sedang pergi menuju sekolahnya. Ia pergi ke sekolah dengan berjalan kaki.
Jarak antara rumah dan sekolahnya tidak terlalu jauh hanya 300 meter. Di tengah jalan, ia
melihat seekor anak kucing yang masih kecil terjatuh ke dalam selokan. Mia merasa kasihan
dengan anak kucing itu. Lalu ia mengangkat anak kucing itu dari selokan dan menaruhnya di
tempat yang aman kemudian Mia melanjutkan perjalanannya ke sekolah. Bel tanda masuk
berbunyi. Mia dan teman-temannya segera masuk ke kelas.
Di sekolahnya, Mia termasuk anak yang cerdas. Ia selalu masuk dalam rangking 3 besar. Ia
sering mengadakan kelompok belajar bersama teman-temannya di waktu istirahat maupun
setelah pulang dari sekolah. Dalam kelompok belajar itu, mereka membahas pelajaran yang
telah mereka dapatkan dan juga membahas pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru.
Kriiingg... Bel tanda waktu pulang berbunyi! Mia dan teman-temannya segera bergegas
membereskan buku-bukunya dan segera keluar ruangan.
Di perjalanan pulang, ketika sedang mengobrol dengan teman-temannya, Mia melihat anak
kucing yang tadi pagi dilihatnya dalam selokan. Anak kucing itu mengeong-ngeong sambil
terus mengikuti Mia. Mia tidak sadar ia diikuti oleh anak kucing itu. Sesampainya di rumah,
ketika akan menutup pintu, Mia terkejut karena ada anak kucing mengeong sekeras-
kerasnya. Mia baru menyadari kalau anak kucing yang ditolongnya, mengikutinya sampai
rumah.
Mia mohon pada Ibunya, agar ia di izinkan memelihara kucing kecil itu. "Tidak boleh!, nanti
hewan itu membuat kotor rumah", ujar Ibu Mia. "Tapi bu, kasihan kucing ini! ia tidak punya
tempat tinggal dan tidak punya orangtua", kata Mia. Setelah beberapa saat, akhirnya Ibu
membolehkan Mia memelihara kucing dengan syarat binatang itu tidak boleh ditelantarkan
dan jangan sampai mengotori rumah.
Sejak saat itu, Mia memelihara anak kucing itu. Setiap hari ia memberi minum dan makan
anak kucing itu. Lama-lama Mia menjadi sangat sayang dengan anak kucing itu. Mia
memberi nama anak kucing itu Kitty. Semenjak dipelihara Mia, Kitty menjadi bersih dan
gemuk, bulunya yang berbelang tiga membuatnya tambah lucu.
Beberapa bulan kemudian, Si Kitty menjadi besar. Suatu hari, Mia melihat seekor burung
kutilang yang tergeletak di halaman rumahnya. Mia mendekati burung kutilang itu dan
mengangkatnya. Ternyata burung kutilang itu terluka sayapnya dan tidak bisa terbang. Mia
merawat burung itu dengan penuh kasih sayang. Si Kitty merasa cemburu karena merasa
Mia menjadi lebih sayang pada burung kutilang daripadanya. Padahal Mia tetap menyayangi
si Kitty. Karena merasa tidak diperhatikan lagi, setiap Mia tidak ada, si Kitty selalu menakut-
nakuti burung kutilang tersebut.
Setelah dirawat Mia selama seminggu, burung kutilang itu jadi sembuh. Beberapa hari
kemudian, ketika Mia baru pulang dari sekolah, ia melihat pintu kandang burung kutilangnya
terbuka dan ada bercak darah di bawah kandang burung kutilangnya. Mia berpikir jangan-
jangan si Kitty memakan burung Kutilangnya. Ketika melihat si Kitty, Mia jadi lebih curiga
karena pada mulut si Kitty terdapat bercak darah. Karena saking kesalnya, Mia mengambil
sapu dan mengejar si Kitty untuk dipukul. Si Kitty segera berlari masuk ke kolong tempat
tidur.
Ketika melihat ke kolong Mia sangat terkejut karena ada seekor ular yang sudah mati di
bawah kolong tempat tidurnya. Akhirnya Mia sadar, si Kitty telah menyelamatkannya dengan
menggigit ular tersebut. Mia baru ingat kalau ia lupa menutup pintu sangkar burungnya. Mia
menyesal ketika ingat akan memukul si Kitty. Padahal kalau tidak ada si Kitty mungkin ular
tersebut masih hidup dan bisa mencelakainya. Akhirnya Mia sadar akan kesalahannya dan
memeluk si Kitty dengan erat. Sejak kejadian itu, Mia jadi lebih sayang dengan Si Kitty.

BENDE WASIAT
Harimau sedang asyik bercermin di sungai sambil membasuh
mukanya. "Hmm, gagah juga aku ini, tubuhku kuat berotot dan
warna lorengku sangat indah," kata harimau dalam hati.
Kesombongan harimau membuatnya suka memerintah dan berbuat
semena-mena pada binatang lain yang lebih kecil dan lemah. Si
kancil akhirnya tidak tahan lagi. "Benar-benar keterlaluan si
harimau!" kata Kancil menahan marah. "Dia mesti diberi pelajaran!
Biar kapok!
Sambil berpikir, ditengah jalan kancil bertemu dengan kelinci. Mereka berbincang-bincang
tentang tingkah laku harimau dan mencoba mencari ide bagaimana cara membuat si
harimau kapok.
Setelah lama terdiam, "Hmm, aku ada ide," kata si kancil tiba-
tiba. "Tapi kau harus menolongku," lanjut si kancil. "Begini,
kau bilang pada harimau kalau aku telah menghajarmu
karena telah menggangguku, dan katakan juga pada si
harimau bahwa aku akan menghajar siapa saja yang berani
menggangguku, termasuk harimau, karena aku sedang
menjalankan tugas penting," kata kancil pada kelinci. "Tugas
penting apa, Cil?" tanya kelinci heran. " Sudah, bilang saja begitu, kalau si harimau nanti
mencariku,  antarkan  ia  ke  bawah  pohon  be sar  di  ujung  jalan itu. Aku akan menunggu
Harimau disana." "Tapi aku takut Cil, benar nih rencanamu akan berhasil?", kata kelinci.
"Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut aku si kancil yang cerdik". "Iya, iya. Aku
percaya, tapi kamu jangan sombong, nanti malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau
lagi."
Si kelincipun berjalan menemui harimau yang sedang bermalas-
malasan. Si kelinci agak gugup menceritakan yang terjadi
padanya. Setelah mendengar cerita kelinci, harimau menjadi
geram mendengarnya. "Apa? Kancil mau menghajarku? Grr,
berani sekali dia!!, kata harimau. Seperti yang diharapkan,
harimau  minta  diantarkan  ke  tempat  kancil  berada. "Itu dia si
Kancil!" kata Kelinci sambil menunjuk ke arah sebatang pohon
besar di ujung jalan.
"Kita hampir sampai, harimau. Aku takut, nanti jangan bilang si kancil kalau aku yang cerita
padamu, nanti aku dihajar lagi," kata kelinci. Si kelinci langsung berlari masuk dalam semak-
semak.
"Hai kancil!!! Kudengar kau mau menghajarku ya?" Tanya harimau sambil marah. "Jangan
bicara keras-keras, aku sedang mendapat tugas penting". "Tugas penting apa?".
Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk bulat, yang
tergantung pada dahan pohon di atasnya. "Aku harus menjaga
bende wasiat itu." Bende wasiat apa sih itu?" Tanya harimau
heran. "Bende adalah semacam gong yang berukuran kecil,
tapi bende ini bukan sembarang bende, kalau dipukul suaranya

0 komentar:

Poskan Komentar

Please Comment Here

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...